close

Catat 12 Festival Budaya di Indonesia Tahun 2017

Travel Blog Reservasi – Kali ini kami merangkum festival tahunan yang diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia. Festival tahunan ini merupakan salah satu tradisi yang erat kaitannya dengan kearifan lokal masing-masing daerah. Selain itu juga kini festival tahunan ini menjadi salah satu magnet yang menarik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Berikut ulasan selengkapnya tentang festival tahunan yang bisa kamu nikmati selama satu tahun penuh yang diselenggarkan pada bulan yang berbeda.

Baca juga 10 Festival Budaya Ini Selalu Menyedot Minat Wisatawan Internasional

Januari – Pesta Reba, Suku Bena, NTT. (14 – 16 Januari)

Pesta Reba Suku Bena
Pesta Reba (pariwisatangada.blogspot.com)

Pesta Reba merupakan salah satu pesta adat yang digelar di Nusa Tenggara Timur dalam rangka menyambut tahun baru. Pesta ini selalu diselenggarakan setiap tanggal 27 Desember dan puncaknya diakhiri pada pertengahan bulan Januari. Salah satu ciri khas dari Pesta Reba adalah makan ubi bersama-sama sambil diiringi dengan tarian tradisional Besa Uwi. Tarian tersebut biasanya juga dipertunjukkan berbarengan dengan dinyanyikannya lagu O Uwi. Lagu O Uwi memiliki makna pemujaan terhadap ubi sebagai makanan pokok bagi warga Ngada.

Pesta Reba diselenggarakan di Kampung Bena yang terletak sekitar 12 kilometer dari Bajawa, Flores. Kalian bisa menggunakan pesawat dari Jakarta menuju Bajawa, Flores, NTT, yang membutuhkan waktu tempuh kurang lebih sekitar 7 jam perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang.

Pesta Reba biasanya diselenggarakan pada bulan Desember, Januari, hingga bulan Februari. Namun, puncak dari Pesta Reba biasanya diselenggarakan pada pertengahan Januari yaitu sekitar tanggal 14–16 Januari setiap tahunnya. Pesta ini akan dipimpin langsung oleh pemuka adat atau ketua suku yang biasa disebut dengan nama Mosalaki. Seluruh masyarakat Ngada juga turut mengikuti dan memeriahkan pesta ini.
Pesta Reba dalam masyarakat adat Ngada merupakan pesta pemersatu kampung-kampung kecil. Selain merupakan simbol upacara syukuran, Pesta Reba juga menjadi salah satu simbol upacara penghormatan kepada leluhur masyarakat Ngada.

Kata Reba itu sendiri berasal dari nama salah satu pohon kayu yang ada di Flores yaitu pohon kayu Reba. Pesta Reba juga dikenal dengan nama lain seperti Reba Uwi, Buku Reba atau Gua Reba. Reba sangat lekat kaitannya dengan Ubi atau Uwi. Namun, Reba juga bisa bermakna larangan memotong bambu (Reba Bheto) dan juga larangan mengambil kelapa (Reba Nio).

Uniknya, lagu yang dinyanyikan dalam Pesta Reba memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Beberapa bait dari lagu tersebut menyiratkan tentang persatuan dan kesetiaan. Pesta Reba bukanlah sekadar pesta makan-makan bersama atau sekadar digelar untuk merayakan syukuran, namun lebih dari pada itu, Pesta Reba juga mengandung nilai-nilai kebudayaan setempat yang patut untuk dilestarikan.

Pada awal tahun, Pesta Reba kerap juga diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Namun, pusat perayaan pesta ini tetap berada di Kabupaten Ngada. Menariknya, banyak pula turis asing yang berdatangan dari luar negeri ke Indonesia demi menyaksikan Pesta Reba ini.

Kabupaten Ngada memiliki berbagai fasilitas wisata mulai dari hotel, penginapan, hingga alat transportasi umum yang memadai. Bandara yang terletak paling dekat dengan Kabupaten Ngada adalah Bandara Bajawa, Flores, NTT. Harga hotel yang ada di sekitar Kabupaten Ngada berkisar kurang lebih antara Rp350.000 hingga Rp800.000. Pastikan kalian memesan tiket pesawat dan hotel 30 hari sebelumnya untuk mendapatkan harga promo terbaik dari Resevasi.com.

Setelah menyaksikan Pesta Reba yang diselenggarakan oleh warga Ngada, jika masih memiliki banyak waktu luang, kalian bisa melanjutkan liburan ke Ende atau Labuan Bajo.

Baca juga Indahnya Festival Takabonerate 2016 Tahun Ini

Februari – Festival Bau Nyale Putri Mandalika, Kuta, Lombok (10-15 Februari 2017)

Bau Nyale Mandalika Lombok
Festival Bau Nyale Lombok (thelangkahtravel.com)

Festival Bau Nyale merupakan salah satu festival tahunan yang rutin digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Festival Bau Nyale biasanya diselenggarakan di hari ke-20 pada bulan ke-10 berdasarkan penghitungan bulan dalam penanggalan tradisional Suku Sasak.

Menurut bahasa Suku Sasak Lombok, kata “Bau” bermakna “menangkap” sedangkan kata “Nyale” adalah sebutan untuk cacing laut yang hanya muncul ke permukaan pantai sekali dalam setahun. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa Festival Bau Nyale identik dengan menangkap cacing bersama di sepanjang pantai Lombok.

Festival Bau Nyale merupakan salah satu festival tertua di Lombok yang sangat unik dan sayang jika dilewatkan. Festival Bau Nyale juga merupakan simbol dari rasa syukur warga Lombok yang kemudian digelar dalam bentuk pesta rakyat.

Berdasarkan sejarahnya, Festival Bau Nyale memiliki hubungan yang erat dengan cerita rakyat Putri Mandalika. Konon, pada saat itu, Putri Mandalika diperebutkan oleh beberapa pangeran yang berasal dari berbagai kerajaan. Putri Mandalika adalah seorang putri yang cantik jelita dan berbudi pekerti luhur. Hal inilah yang kemudian membuat Putri Mandalika menjadi sosok wanita idaman para pangeran.

Sayangnya, Putri Mandalika justru malah mengorbankan dirinya sendiri demi mencegah terjadinya konflik dan pertumpahan darah akibat dari para pangeran yang memperebutkan dirinya. Ia memilih untuk menenggelamkan dirinya ke laut. Sejak saat itulah, warga Suku Sasak percaya bahwa cacing laut yang muncul setiap satu tahun sekali itu tidak lain adalah jelmaan Putri Mandalika yang cantik jelita. Hingga kini, setiap tahunnya warga berbondong-bondong menuju pantai untuk ikut parade “Bau Nyale” yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Perayaan Festival Bau Nyale tidak sebatas pada parade menangkap cacing di laut saja, tetapi ada juga berbagai acara tradisi budaya lainnya yang menarik untuk disaksikan secara langsung. Salah satunya adalah pementasan drama kolosal Putri Mandalika, ritual penyambutan Putri Mandalika, kontes pemilihan Putri Mandalika, Gandeng Baleq, Peresean, lomba bersepeda, lomba pacuan kuda, dan masih banyak lagi parade budaya yang lainnya.

Festival Bau Nyale biasanya diselenggarakan di Pantai Seger Desa Kuta, Selong Belanak, Pantai Awang, An, Gerepuk, Mawun, Mawi, Tampah dan juga di sepanjang pesisir pantai lainnya yang ada di Lombok. Garis pantai yang membentang hampir sepanjang 76 kilometer biasanya akan dipenuhi lautan manusia yang turut merayakan Festival Bau Nyale.

Cacing ‘Nyale’ memiliki bentuk yang sama seperti cacing pada umumnya namun memiliki warna yang berbeda. Ada cacing ‘Nyale’ yang berwarna coklat tua dan ada pula yang berwarna hijau tua. Umumnya, cacing ‘Nyale’ yang berhasil ditangkap tidak semuanya diolah untuk dijadikan santapan. Sebagian cacing ‘Nyale’ yang ditangkap juga ditaburkan di tanah demi kesuburan, dijadikan antibiotik, hingga dijadikan bahan obat untuk meningkatkan stamina tubuh.

Cacing ‘Nyale’ dipercaya memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dan bahkan lebih tinggi dari telur ayam ataupun susu sapi. Nah, salah satu kuliner berbahan dasar cacing ‘Nyale’ yang patut dicoba adalah pepes nyale. Biasanya, warga Suku Sasak Lombok akan membungkus cacing ‘Nyale’ dengan daun pisang dan kemudian dipanggang. Tak jarang pula, cacing ‘Nyale’ dikeringkan untuk dijadikan bahan rempeyek atau sebagai bumbu penyedap rasa tambahan dalam setiap masakan khas Suku Sasak Lombok.

Meskipun memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, masyarakat Suku Sasak Lombok memiliki kepercayaan lain terkait menjadikan cacing ‘Nyale’ sebagai santapan. Konon, jika menyantap kuliner berbahan dasar cacing ‘Nyale’, bagi yang masih jomblo dipercaya bisa ‘enteng’ jodoh. Bagi kelompok ibu-ibu dan wanita dewasa, jika menyantap cacing ‘Nyale’ dipercaya bisa menjadi semakin awet muda. Sementara itu, bagi pria dewasa, menyantap cacing ‘Nyale’ dipercaya mampu membuat pria dewasa menjadi perkasa dalam urusan ranjang.

Salah satu hal yang harus kalian perhatikan jika berkunjung ke Lombok untuk menyaksikan Festival Bau Nyale adalah biasanya hotel-hotel di sepanjang Pantai Kuta, Lombok, sudah banyak dipesan dari jauh-jauh hari. Bahkan, seminggu sebelum Festival Bau Nyale dimulai, semua hotel biasanya sudah penuh dipesan oleh para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Kalian disarankan untuk sesegera mungkin pesan hotel murah terbaik melalui situs Reservasi.com untuk melihat langsung Festival Bau Nyale yang diperkirakan akan diselenggarakan pada bulan Februari 2017.

Baca juga 10 Destinasi Wisata di Toraja Ini Bikin Makin Cinta Indonesia

Maret – Festival Timba Laor, Ambon (11 – 14 Maret 2017)

timba-laor-ambon
Festival Timba Laor Ambon (youtube.com)

Festival Timba Laor di Ambon merupakan festival yang memiliki konsep hampir sama dengan Festival Bau Nyale di Lombok dan Festival Pasola di Sumba. Perbedaannya hanya terletak pada selisih waktu perayaan festivalnya. Festival Timba Laor berlangsung sekitar bulan Maret dan April.

Festival Timba Laor merupakan salah satu pesta yang kini identik dengan wisata Ambon. Sama halnya dengan Festival Bau Nyale, di dalam Festival Timba Laor juga terdapat aktivitas mencari cacing laut di antara karang yang terdapat di sepanjang pesisir pantai setiap satu tahun sekali.

Kawasan pesisir pantai yang menjadi tempat perayaan Festival Timba Laor biasanya berada di kawasan Nusaniwe dan Leitimur Selatan. Festival Timba Laor biasanya diakhiri dengan memasak hasil tangkapan cacing laut ‘Laor’ (Lycde Oele) yang kemudian disajikan untuk disantap secara bersama-sama.

Kawasan pesisir Nusaniwe memiliki pantai-pantai yang indah salah satunya adalah Pantai Santai. Pantai ini memiliki jarak sekitar 17 kilometer dari Kota Ambon dan dapat ditempuh melalui jalur darat dengan waktu tempuh sekitar 30 menit saja. Pantainya memiliki pasir yang putih dan bersih dengan air laut yang berwarna kehijauan hingga bisa terlihat dasarnya dari atas kapal.

Pesisir Pantai Santai kerap dijadikan sebagai salah satu spot atau titik snorkeling karena memiliki koleksi terumbu karang yang masih terjaga yang menjadi habitat dari biota laut dan ikan-ikan kecil yang beragam dan indah. Tidak perlu khawatir masalah penginapan karena di dekat Pantai Santai, tersedia berbagai hotel dan penginapan dengan kisaran harga yang variatif.

Salah satu pantai yang tak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Kota Ambon adalah Pantai Pintu Kota. Belum lengkap rasanya ke Kota Ambon tanpa mengunjungi Pantai Pintu Kota. Latar belakang di balik nama “Pintu Kota” adalah karena terdapat sebuah tebing karang di pantai ini yang membentuk sebuah lubang di tengahnya bak sebuah pintu masuk dari lautan.

Kota Ambon memiliki infrastruktur pariwisata yang cukup lengkap terutama akomodasinya mulai dari penginapan hingga alat transportasi. Tarif hotel atau penginapan yang ada di Kota Ambon berkisar mulai dari Rp450.000 hingga Rp850.000. Sementara itu, tiket pesawat dari Jakarta ke Ambon memiliki tarif yang berkisar antara 1,2 juta hingga 3,5 juta rupiah. Kamu bisa mengecek secara rutin harga tiket pesawat termurah ke Kota Ambon atau memanfaatkan promo dari Reservasi.com agar bisa menyaksikan dan mengikuti Festival Timba Laor di Ambon, Maluku.

Ada banyak kuliner Ambon yang wajib kalian coba salah satunya adalah kue kering Kenari, rujak Nestapa, Bagea, Kohu-Kohu, hingga Papeda yang merupakan salah satu kuliner yang populer juga di Papua. Kalau kamu merasa bosan ke wilayah bagian barat Indonesia, saatnya bulan Maret nanti untuk kamu singgah di Kota Ambon untuk mengikuti Festival Timba Laor sambil berburu kuliner lezat nan menggiurkan di Kota Ambon.

April – Festival Tidore, Maluku Utara (1 – 3 April)

festival-tidore
Festival Tidore (http://tips-wisata-indonesia.blogspot.co.id)

Festival Tidore merupakan sebuah acara tahunan yang digelar oleh Pemerintah Tidore. Acara tahunan ini dirangkai dalam bentuk festival budaya yang menyatukan beberapa acara adat. Festival Tidore selalu diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi Kota Tidore yang kini sudah berumur kurang lebih 900 tahun. Festival yang diselenggarakan selama 3 hari ini, tepatnya mulai dari tanggal 1 sampai 3 April, semakin menambah daya tarik pariwisata di Kota Tidore untuk dikunjungi dan dilirik oleh wisatawan mancanegara.

Selain itu, ada banyak sekali rangkaian acara yang terdapat dalam Festival Tidore di Maluku Utara ini yaitu salah satunya adalah Dowari. Dowari merupakan sebuah ritual yang dilaksanakan untuk mengawali setiap kegiatan acara adat yang bernama Soa Romtoha di Maluku Utara. Soa Romtoha adalah acara ritual pertemuan lima warga untuk mengantar air yang diambil dari puncak Gunung Kie Matabu dengan menggunakan Rau untuk dituang atau dijadikan satu di dalam wadah bambu yang telah disediakan.

Kalau kamu berniat untuk menyaksikan langsung Festival Tidore tahun depan, kamu bisa melihat banyak sekali atraksi budaya seperti lomba Kabate, Maluku Tai atau yang biasa dikenal sebagai lomba memancing, Raib Taji Besi yang merupakan atraksi debus, Batu dan Jumbai, hingga acara yang terakhir yaitu Ritual Lufu Kesultanan Tidore. Festival yang digelar bulan April ini selalu diadakan secara rutin setiap tahunnya di Maluku Utara. Selain itu, kamu juga bisa menyaksikan karnaval budaya, pameran ekonomi kreatif, pameran arsip dan koleksi foto dari Kesultanan Tidore.

Hal yang sangat menarik dan paling ditunggu oleh para wisatawan yang berdatangan kesini adalah menyaksikan Ritual Lufu Kie yang diadakan untuk mengenang kembali Lufu Kie. Mungkin, kamu akan sedikit bingung dan asing jika mendengar nama Lufu Kie. Lufu Kie merupakan sebutan atau gelar khusus bagi armada perang yang telah berhasil mengusir VOC dari Tidore. Gelar ini dicetuskan oleh Sultan Tidore sekitar tahun 1657-1689 yang lalu. Formasi Lufu Kie ini terdiri atas Kagunga Sultan (perahu kebesaran sultan) dengan kawalan Juanga Hongi Taumoy se Malofo yang berarti 12 perahu kora-kora tempur dan Kesultanan Tidore yang berisikan 12 pasukan utama Angkatan Laut Kesultanan Tidore yang turut serta dalam acara ini.

Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk memperkenalkan kebudayaan Maluku Utara dan sekaligus mempromosikan Festival Tidore yang berlangsung dari tanggal 1 sampai 3 April kepada masyarakat luas.

Tertarik mengunjungi Maluku Utara untuk turut hadir dalam Festival Tidore tahun depan? Jangan lupa untuk mengecek situs Reservasi.com! Ada banyak sekali penawaran hotel dan tiket pesawat dengan harga yang pas sekali dan cocok dengan budget yang kamu punya. Jangan lupa untuk memilih penginapan terdekat di Maluku Utara agar lebih memudahkan kamu untuk mendatangi acara Festival Tidore ini.

Mei – Semarang Night Carnival, (7 Mei)

Semarang Night Carnival (rivaihidayat.blogspot.com)
Semarang Night Carnival (rivaihidayat.blogspot.com)

Dalam rangka menyambut hari ulang tahun ke-470 Kota Semarang, tahun 2017, tepatnya 7 Mei 2017 akan digelar dan dirayakan kembali Semarang Night Carnival. Festival yang pertama kali diadakan pada tahun 2011 yang lalu ini memiliki banyak sekali rangkaian acara yang akan diikuti oleh ratusan peserta, mulai dari pelajar, komunitas, pekerja seni dan masih banyak lagi.

Hal yang paling menarik dari Semarang Night Carnival adalah seluruh kostum yang dikenakan peserta dalam karnaval ini menggunakan berbagai macam hiasan yang unik seperti lampu dan lampion. Lampu dan lampion ini juga telah menjadi ciri khas dari Semarang Night Carnaval. Para peserta yang turut memeriahkan acara ini hampir semua berdandan maksimal dengan kostum yang mereka kenakan. Mereka juga untuk memoles wajah mereka dengan make up yang meriah dan dipenuhi dengan glitter serta beragam hiasan yang dapat menarik perhatian para pengunjung yang melihatnya.

Semarang Night Carnival biasanya dimulai pukul 19.00 waktu setempat dan akan berkeliling ke sepanjang jalan Kota Semarang sekaligus menyusuri bangunan-bangunan yang bersejarah yang ada di Kota Semarang. Jika kamu sudah pernah datang ke festival ini sebelumnya, pasti kamu tidak akan kaget jika melihat hampir seluruh jalan ramai dipadati oleh para pengunjung yang sangat antusias untuk menyaksikan karnaval yang diselenggarakan hanya setahun sekali di Semarang ini.

Uniknya, dalam Semarang Night Carnival ini terdapat Warak Ngendog yang seringkali diangkat menjadi tema pada salah satu pagelaran sekaligus menjadi ikon atau perwakilan dari akulturasi budaya di Semarang. Warak Ngendog itu sendiri adalah binatang imajiner yang cukup melegenda di Semarang. Pada Mei 2016 lalu, Semarang Night Carnival memiliki konsep ramah lingkungan yang kemudian membuat para peserta yang mengikuti acara ini harus membuat kostum dengan bahan dasar atau material yang juga ramah lingkungan dan berasal dari alam seperti biji-bijian, bambu, bunga, hingga daun kering. Ada kurang lebih sekitar 500 peserta yang ikut meramaikan Semarang Night Carnival pada Mei 2016 lalu. Peserta yang mengikuti Semarang Night Carnival tidak hanya sebatas berdandan atau berkostum heboh saja, melainkan mereka juga diajari berbagai tarian dan koreografi untuk mengisi pagelaran yang ada di Semarang Night Carnival.

Tertarik untuk berkunjung ke Semarang tahun depan? Jangan lupa siapkan tiket dan hotelnya terlebih dahulu supaya memudahkan kamu untuk menghadiri Semarang Night Carnival 2017. Kamu bisa mengecek Reservasi.com untuk melihat harga tiket pesawat yang murah dan hotel untuk kamu menginap selama di Semarang.

Juni – Festival Danau Sentani Adakan Pesta 16 Suku Papua (19 – 23 Juni)

Festival Danau Sentai Papua (sportourism.id)
Festival Danau Sentai Papua (sportourism.id)

Danau Sentani merupakan salah satu danau terbesar sekaligus terindah yang terletak di ujung timur Indonesia, tepatnya di Papua. Papua memiliki banyak sekali keunikan mulai dari adanya Pegunungan Jayawijaya dengan puncaknya yang bersalju, adanya Taman Laut Nasional Raja Ampat yang selalu masuk ke dalam kategori destinasi paling favorit, dan termasuk Danau Sentani sebagai salah satu danau terbesar di Indonesia yang memiliki keindahan dan daya tariknya sendiri.

Festival Danau Sentani merupakan pesta pariwisata yang melibatkan 16 suku yang ada di Papua. Festival ini telah menjadi sebuah tradisi di Papua sejak tahun 2007 yang lalu. Festival Danau Sentani diadakan selama lima hari berturut-turut yang biasanya dimulai dari tanggal 19 sampai dengan 23 Juni di kawasan wisata Khalkhote, Sentani Timur. Tujuan diadakannya festival ini antara lain adalah sebagai upaya untuk mempromosikan pariwisata berbasis kekayaan alam dan budaya masyarakat setempat.

Datang dan berkunjunglah ke Papua untuk menyaksikan Festival Danau Sentani di tahun depan, niscaya kamu akan disuguhkan dengan beragam macam pertunjukan adat, seni, dan kebudayaan dari puluhan suku asli Papua yang turut mengikuti dan meramaikan festival ini. Ke-16 suku yang ada di Papua yang mengikuti festival ini masing-masing menyumbang penampilan budaya tradisional seperti tari-tarian khas yang diiringi oleh lagu daerah setempat. Selain warga Papua asli, warga dari luar Papua pun juga bisa turut meramaikan festival ini.

Di dalam festival ini, tak mau ketinggalan, warga setempat juga turut meramaikan dengan menjajakan berbagai produk kerajinan kulit kayu, batik khas Papua, produk olahan seperti cokelat, kopi, sagu, dan buah merah. Aktivitas ini juga bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat Bumi Cendrawasih dalam menjalin kerja sama dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat setempat. Selain itu, hal tersebut sekaligus juga menjadi salah satu pembuktian bahwa Festival Danau Sentani merupakan festival yang mampu memelihara persatuan serta perdamaian antar berbagai suku, ras, dan agama.

Danau Sentani yang akan dijadikan sebagai tempat berlangsungnya festival ini disulap dan didekorasi sedemikian rupa menjadi indah dan ramah terhadap para wisatawan. Di danau inilah kemudian berbagai pagelaran atau pertunjukan adat dan budaya akan berlangsung. Khusus untuk pertunjukan tari-tarian, dibangun ‘panggung’ khusus berupa perahu yang diberi nama Isosolo. Semua pertunjukan berbasis tari berlangsung di atas perahu Isosolo.

Uniknya, ada kepercayaan masyarakat setempat bahwa di Papua terdapat sebuah peninggalan berupa tulang tertua yang terletak di Pulau Asei. Dengan ditemukannya tulang tertua ini kemudian menjadikan Pulai Asei dipercayai sebagai pusat pertemuan antara nenek moyang suku-suku asli Sentani dengan para imigran dari Kepulauan Melanesia.

Nah, bahkan, kabarnya, mulai tahun depan, Festival Danau Sentani akan diselenggarakan dalam konsep berskala internasional, lho! Bagaimana? tertarik untuk berkunjung ke Papua untuk turut menghadiri festival unik yang digelar setahun sekali ini?

Jika kamu tertarik untuk menghadiri Festival Danau Sentani tahun depan, sebaiknya kamu melakukan reservasi hotel terlebih dahulu agar mendapatkan hotel atau penginapan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Khalhote, Sentani Timur, Papua. Jangan sampai kamu kehabisan hotel dengan lokasi terdekat hanya karena kamu tidak merencanakan memesan jauh-jauh hari sebelumnya. Kamu bisa mencari penawaran hotel murah terbaik di situs Reservasi.com.

Jangan lupa juga untuk untuk memesan tiket pesawat murah ke Jayapura dari jauh-jauh hari agar dapat diskon. Sekarang, kamu bisa melihat harga tiket murah dengan mudah dan praktis melalui situs Reservasi.com

Juli – Upacara Adat Tengger “Yadnya Kasada”, Gunung Bromo (9 – 10 Juli 2017)

Kasada (malang.merdeka.com)
Kasada (malang.merdeka.com)

Yadnya Kasada atau Kesodo merupakan salah satu ritual tahunan terbesar suku asli Tengger di Bromo. Setiap tahunnya, pada hari ke-14 bulan Kasada, umat Hindu Tengger akan melempar sesaji ke kawah Gunung Bromo. Mulai dari sayur mayur, buah-buahan, hewan ternak, hingga uang dijadikan persembahan kepada Sang Hyang Widhi. Semuanya itu merupakan bentuk rasa syukur dan terima kasih atas kesejahteraan yang dianggap telah diberikan Gunung Bromo sepanjang tahun kepada masyarakat sekitar.

Asal muasal ritual Yadnya Kasada adalah legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang tidak kunjung dikaruniai anak meski sudah bertahun-tahun menikah. Setelah bertapa sekian lama di puncak Gunung Bromo, akhirnya permohonan mereka dikabulkan oleh Sang Hyang Widhi.
Pasangan Roro Anteng dan Joko Seger dikaruniai 24 anak sekaligus. Namun, semua itu memiliki syarat yaitu anak mereka yang ke-25 harus dilempar ke kawah Gunung Bromo sebagai persembahan. Roro Anteng dan Joko Seger tidak memenuhi syarat tersebut sehingga membuat Sang Hyang Widhi marah.

Langit pun menjadi gelap dan kawah Gunung Bromo pun mengeluarkan api. Oleh karena itu, agar kehidupan di Bromo kembali aman dan sejahtera, mereka harus memberi sesaji setiap hari ke-14 bulan Kasada. Ritual ini pun terus dilakukan turun temurun sebagai wujud janji umat Hindu Tengger terhadap Gunung Bromo.

Ritual Yadnya Kasada terbuka untuk umum dan biasa dilakukan setelah matahari terbit. Sebelumnya, masyarakat Tengger akan sembahyang terlebih dahulu di Pura Luhur Poten yang berada di lautan pasir kaki Gunung Bromo. Upacara ini berlangsung pada dini hari. Setelah itu, barulah masyarakat mendaki Gunung Bromo untuk melempar sesajinya.

Dengan mengikuti upacara Yadnya Kasada, Anda tidak hanya bisa menyaksikan keunikan tradisi suku Tengger tapi juga bisa menikmati keindahan pemandangan matahari terbit dari Gunung Bromo. Namun yang paling penting, siapkan kondisi fisik karena Anda harus mendaki ke puncak Gunung Bromo yang berada di ketinggian 2.329 mdpl dan sekaligus berhadapan dengan suhu 5 – 10 derajat Celcius.

Untuk tahun depan, diperkirakan Yadnya Kasada akan jatuh pada tanggal 9 – 10 Juli 2017. Anda sudah bisa merencanakan perjalanan ke Gunung Bromo dari sekarang. Coba saja lihat-lihat dulu harga tiket pesawat ke Surabaya atau Malang yang ada di Reservasi.com. Untuk penginapan, Anda bisa bermalam di sekitar Gunung Bromo maupun di Kota Malang.

Agustus – Festival Budaya Lembah Baliem, Papua (8 – 10 Agustus 2017)

Festival Lembah Baliem Papua (Ulet Ifansasti/Getty Images)
Festival Lembah Baliem Papua (Ulet Ifansasti/Getty Images)

Bisa dibilang inilah salah satu festival paling eksotis yang ada di Indonesia. Kapan lagi Anda bisa melihat ratusan pria suku asli Papua berperang di depan mata? Lengkap dengan koteka, hiasan kepala, serta lukisan di wajah. Ya, Festival Budaya Lembah Baliem-lah tempatnya.

Selama tiga hari, Anda dapat melihat atraksi perang suku dan budaya penduduk asli wilayah pegunungan tengah Papua yang sudah lama ditinggalkan. Anda akan melihat tombak dan panah beterbangan di udara. Sorak sorai penonton pun akan bergemuruh seiring meningkatnya intensitas perang.

Hal yang perlu Anda lakukan hanyalah duduk, menikmati pemandangan ini, dan mengabadikannya dengan kamera Anda. Ada kurang lebih sekitar 40 suku yang berpartisipasi dalam festival ini. Anda dapat melihat Suku Dani, Lani, Yali, dan suku-suku lainnya mengenakan pakaian tradisional mereka yang eksotis.
Festival Budaya Lembah Baliem juga menjadi kesempatan satu-satunya bagi Anda untuk memotret orang-orang suku Dani secara gratis. Suku Dani sudah terkenal akan kebiasaannya meminta uang kepada wisatawan yang memotret mereka. Tapi khusus di festival ini, Anda tak perlu khawatir karena gratis biaya berfoto.

Selain atraksi perang suku, Anda juga dapat melihat berbagai atraksi tari-tarian, karapan anak babi, permainan musik tradisional Pikon dan Witawo, permainan remaja yang disebut Sikoko dan Puradan, peragaan memasak cara tradisional (bakar batu), atraksi pembuatan Noken (tas rajut wanita Papua), dan berbagai pameran hasil kerajinan tangan masyarakat setempat lainnya.

Jangan lupa juga untuk ikut dalam lomba panahan dan lempar tombak (sege) yang diadakan untuk turis. Ada hadiah langsung dan pastinya ini sekaligus akan menjadi pengalaman unik yang tak terlupakan. Festival Budaya Lembah Baliem tahun 2016 tidak mematok biaya tiket alias gratis. Bisa jadi, tahun depan (2017) kebijakan yang sama akan kembali diterapkan.

Ini merupakan kesempatan emas bagi Anda yang ingin menyaksikan festival ini. Hal yang perlu disiapkan hanyalah budget untuk tiket pesawat dan penginapan. Untuk menuju Lembah Baliem, Anda dapat menggunakan berbagai maskapai penerbangan dari Jakarta, Makassar atau Bali menuju Jayapura.

Setibanya di bandara Sentani, Anda harus melanjutkan perjalanan dengan pesawat kecil ke Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Jika ingin lihat harga dan pesan tiket pesawat ke Jayapura, langsung saja cek Reservasi.com.
(*) : tanggal perkiraan berdasarkan penyelenggaraan tahun sebelumnya

September – Pesta Budaya Tabuik, Pariaman (20 September – 1 Oktober 2017)

Pesta Budaya Tabuik (Antara Foto)
Pesta Budaya Tabuik (Antara Foto)

Masyarakat kota Pariaman, Sumatera Barat punya tradisi unik yang disebut Tabuik. Ritual adat ini melibatkan dua kelompok masyarakat di Pariaman yaitu Pasa dan Subarang. Kelompok Pasa artinya pasar, sementara kelompok Subarang artinya seberang.

Ketika tiba bulan Muharram, masyarakat Pariaman akan membuat tabuik atau perwujudan makhluk legenda bernama Buraq yang membawa peti jenazah di punggungnya. Menurut legenda, Buraq adalah kuda bersayap dan berkepala manusia yang membawa jenazah Imam Hussein terbang lalu menghilang di angkasa.

Imam Hussein adalah cucu nabi Muhammad SAW yang wafat saat perang di Padang Karbala. Oleh karena itu, ritual adat Tabuik ini dilakukan untuk memperingati hari kematian Imam Hussein atau peringatan Asyura yang jatuh pada 10 Muharram. Seluruh proses ritual Tabuik ini sendiri dimulai pada tanggal 1 Muharram.

Namun, untuk ritual puncaknya tak lagi mesti diselenggarakan pada tanggal 10 Muharram. Pemerintah kota Pariaman dan tokoh masyarakat menyesuaikan tanggal penyelenggaraan ritual puncak dengan akhir pekan. Kisarannya ada di tanggal 10 – 15 Muharram.

Di tahun depan, tanggal 1 Muharram jatuh pada tanggal 20 September 2017. Dengan demikian, tanggal 10 Muharram adalah 30 September 2017 (hari Sabtu). Dengan melihat dari pola penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, kemungkinan besar ritual puncak Tabuik akan terjadi pada 1 Oktober 2017 (hari Minggu).

Tinggi tabuik ini adalah sekitar 15 meter dan dibagi ke dalam dua bagian yang masing-masing dikerjakan oleh kelompok Pasa dan Subarang. Bagian atas yang mewakili keranda berbentuk menara dihiasi bunga dan kain beludru berwarna-warni. Sementara itu, bagian bawah berbentuk tubuh kuda bersayap, berekor dan berkepala manusia yang berambut panjang.

Rangkaian ritual Tabuik di Pariaman terdiri dari tujuh tahapan:

  1. Mengambil tanah: 1 Muharram
  2. Menebang batang pisang: 5 Muharram
  3. Mataam: 7 Muharram
  4. Mengarak jari-jari: 7 Muharram malam
  5. Mengarak sorban: 8 Muharram
  6. Tabuik Naik Pangkek: 10 Muharram subuh
  7. Hoyak Tabuik: 10 Muharram

Setelah melalui ketujuh tahapan ini, tabuik langsung diarak ke Pantai Gondoriah saat menjelang Maghrib. Puncaknya, tabuik dilarung ke laut. Seluruh prosesi Tabuik, terutama sejak ritual Tabuik Naik Pangkek (tabuik dari Pasa dan dari Subarang disatukan) hingga tabuik dilarung akan menyedot perhatian warga Pariaman dan Padang termasuk juga wisatawan dari luar Padang dan luar negeri.

Untuk menyaksikan keunikan Festival Budaya Tabuik, Anda dapat mengunjungi Kota Pariaman. Kota ini dapat dicapai dengan berkendara sekitar 2 jam dari Kota Padang. Ada berbagai maskapai penerbangan yang terbang dari dan ke Bandara Internasional Minangkabau. Anda bisa mengecek harga dan memesan tiket pesawat ke Padang di Reservasi.com.
(*): perkiraan tanggal, bisa berubah sewaktu-waktu sesuai keputusan penyelenggara

Oktober – Festival Reog Ponorogo (10 – 16 Oktober)

Festival Reog Ponorogo (youtube.com)
Festival Reog Ponorogo (youtube.com)

Kabupaten Ponorogo kerap dijuluki sebagai Kota Reog atau Bumi Reog sebab di daerah inilah lahir kesenian Reog yang kini telah dikenal oleh dunia. Kesenian Reog sebagai ikon kebanggaan masyarakat Ponorogo hingga kini masih terus dilestarikan.

Setiap menjelang Bulan Suro alias Bulan Muharam, yaitu saat menyambut tahun baru Islam, masyarakat Ponorogo Jawa Timur menggelar Festival Reog Nasional di Alun-alun Ponorogo dalam rangka pesta rakyat Grebeg Suro. Biasanya, perayaan ini dilangsungkan setiap tahun di bulan Oktober. Festival ini diikuti oleh berbagai peserta dari seluruh Indonesia yang sebagian besar adalah orang-orang perantauan. Ada yang berasal dari daerah Madiun, Yogyakarta, Gunung Kidul, Kediri, Jember, Wonogiri, Malang, dan Surabaya. Mereka merantau demi mengembangkan kesenian Reog agar dikenal luas.

Sebanyak lebih dari 21 kelompok seni Tari Reog beradu keterampilan dengan belasan seniman Reog dari berbagai pelosok tanah air. Dengan adanya aktivitas ini, selain bersilaturahmi, mereka juga diharapkan bisa saling bertukar ilmu dan pengalaman. Penampilan Tari Reog dibawakan bergantian sesuai urutan acak selama lima hari. Penilaian pada setiap penampilan pesertanya didasarkan pada keterampilan menari Reog, kekompakan, serta koreografi yang menarik. Festival ini menjadi lebih meriah sejak para pesertanya bersainguntuk memperebutkan Piala Presiden.

Seperti pada malam puncak pagelaran Festival Reog Nasional di tahun-tahun sebelumnya yang begitu megah bak konser kelas dunia, tahun ini pun penataan panggung, pengaturan tempat duduk penonton, puluhan fotografer dan wartawan yang meliput, semua dikemas secara profesional. Kini, Festival Reog telah merambah menuju kancah dunia internasional terlebih setelah UNESCO mengakui Kesenian Reog sebagai salah satu warisan budaya dunia yang layak dilestarikan.

November – Festival Mahakam (1 – 5 November 2017)

Festival Mahakam (youtube.com)
Festival Mahakam (youtube.com)

Festival Mahakam adalah festival tahunan yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kota Samarinda pada bulan November. Tujuan diadakannya festival ini antara lain adalah untuk memperkenalkan pariwisata dan budaya Kota Samarinda dan juga Kalimantan Timur sekaligus untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.

Ada sekitar kurang lebih 30 jenis kegiatan yang disuguhkan dalam festival ini. Misalnya saja, kegiatan yang diadakan di perairan Sungai Mahakam yaitu di antaranya adalah lomba menyeberangi sungai, perahu ces, lomba jet ski, flying board, balap perahu klotok, dan balap power boating. Sementara itu, di sepanjang tepi Sungai Mahakam digelar juga beragam kegiatan yang berkaitan dengan musik dan kearifan lokal masyarakat setempat seperti festival band, lomba kirab drumband, pentas musik dangdut, pawai budaya, pameran UKM, pameran batu mulia, dan lomba kuliner.

Suguhan menarik nan istimewa juga ditawarkan dalam festival ini yaitu Mahakam Sampe Music Festival yang menampilkan performa berbagai macam aliran musik dengan menggunakan alat musik tradisional Suku Dayak yang bernama Sampe atau Sape. Musisi-musisi yang terlibat dalam festival musik ini berasal dari wilayah Kalimantan. Selain musik, Anda juga bisa menikmati kegiatan lainnya seperti lomba tari kreasi daerah pedalaman, Parade Seribu Penari Hudoq yaitu tari tradisional Suku Dayak, Seni Budaya Tajong Samarinda, Mahakam Sunset Gowes, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Desember – Festival Kora-kora (9 – 10 Desember)

Festival Kora Kora Ternate Maluku Utara (bayuwinata.wordpress.com)
Festival Kora Kora Ternate Maluku Utara (bayuwinata.wordpress.com)

Ternate, Maluku Utara, tak pernah ketinggalan dengan ajang festival tahunan daerahnya, yaitu salah satunya adalah Festival Kora-kora yang rutin diadakan setiap awal hingga pertengahan Desember untuk memperingati hari jadi Kota Ternate.

Festival Kora-kora menampilkan beraneka ragam kebudayaan Maluku Utara mulai dari keseniannya yaitu seni tari, musik, hingga sajian kuliner. Festival ini juga diisi dengan berbagai aktivitas bahari atau aktivitas yang berkaitan dengan kelautan. Ada lomba perahu tradisional Kora-kora yang menjadi daya tarik pengunjung wisatawan, lomba memancing, lomba foto bawah laut, lomba dayung perahu Kora-kora, hingga lomba pawai perahu hias.

Kora-kora sendiri adalah jenis perahu tradisional besar bertiang tiga yang digerakkan dengan menggunakan dayung dan layar. Kapasitas perahu ini bisa memuat sekitar 40 hingga 100 orang termasuk para pendayungnya. Nama “Kora-kora” itu sendiri diambil dari bahasa Spanyol yaitu kata “Carraca”. Konon, pada masa pemerintahan Sultan Babullah, sekitar tahun 1570, perahu Kora-kora menjadi kendaraan armada perang dalam melawan Portugis yang sekaligus juga untuk memperluas wilayah kekuasaan Ternate. Kini, perahu Kora-kora digunakan secara simbolik untuk mengenang masa kejayaan Ternate di waktu lampau. Festival ini juga bertujuan untuk menumbuhkan semangat kebaharian kepada generasi muda, khususnya generasi muda masyarakat Ternate.

Festival ini berpusat di Pantai Ternate yang memang memiliki kekayaan bahari, ekologi, sejarah, hingga keragaman kuliner. Di sini, para wisatawan juga bisa mengunjungi berbagai objek wisata di Ternate lainnya seperti benteng peninggalan masa kolonial, Danau Tolire, dan Pantai Sulamadaha yang menawarkan keindahan terumbu karang dan biota laut.

Catat Kalender Festival Budaya di Indonesia Tahun 2017

Kalender Festival Budaya 2017 Reservasi.com

 

Kemanapun tujuan liburan Anda, cari tiket pesawat dan reservasi hotel hanya di Reservasi.com. Jangan lupa untuk mengunduh aplikasi Reservasi di smartphone Anda. Jika artikel ini bermanfaat untuk Anda, jangan lupa subscribe dan share ke teman-teman Anda. Dapatkan update terbaru di BBM Travel Reservasi.com.

Tags : festivalFestival Budaya
Reservasi.com

The author Reservasi.com

4 Comments

Leave a Response