Festival Cheng Beng 2016, Tradisi Ziarah Kubur Leluhur Etnis Tionghoa - Reservasi Travel Blog

Festival Cheng Beng 2016, Tradisi Ziarah Kubur Leluhur Etnis Tionghoa

Travel News215
Festival Cheng Beng 2016, Tradisi Ziarah Kubur Leluhur Etnis Tionghoa

Travel Blog Reservasi – Tradisi Cheng Beng atau disebut juga dengan tradisi Qing Ming merupakan tradisi etnis Tionghoa bersembahyang dan ziarah kubur para leluhurnya. Biasanya tradisi ini dilakukan setiap satu tahun sekali. Tradisi ini tidak berbeda dengan tradisi yang dilakukan umat Muslim yang biasa dilaksanakan menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Ritual tahunan dengan ziarah kubur leluhur ini biasanya menjadi salah satu daya tarik wisatawan di Medan, Sumatera Utara. Festival Cheng Beng tahun ini akan diselenggarakan pada tanggal 25-27 Maret 2016 seperti dilansir dari telusur.org. Biasanya selain bersembahyang, para keturunan yang masih hidup membersihkan kuburan leleuhurnya. Mereka juga akan membawa beberapa makanan , kue-kue, buah-buahan dan karangan bunga.

festival-cheng-beng-2016-1

Tujuan tradisi ziarah kubur ini agar para kerabat, saudara sedarah dan sanak famili bisa saling kenal dan berkumpul bersama. Tak lain juga untuk mempererat tali silaturrahmi diantara kerabat keluarga lainnya. Tradisi ini kerap dilakukan meskipun dalam satu keluarga tersebut sudah berbeda agama. Inilah indahnya tradisi etnis Tionghoa yang mampu menjaga hubungan keluarga besar dalam sebuah tradisi.

Tidak sedikit keturunan etnis Tionghoa yang sudah berpindah agama. Namun, tradisi Cheng Beng ini tetap dilaksanakan sebagai sebuah bentuk pernghormatan kepada orang tua yang sudah tiada. Di beberapa negara seperti Taiwan dan Korea, tradisi Cheng Beng atau ziarah kubur ke makan orang tua malah sudah dijadikan sebagai hari libur nasional. Tak ayal, begitu juga dengan di Medan Sumatera Utara. Pada saat Festival Cheng Beng, semua hotel akan penuh dibooking.

Tidak sedikit warga Medan yang banyak merantau ke berbagai penjuru Indonesia termasuk ke luar negeri. Sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur, mereka akan dengan setia kembali untuk merayakan tradisi Cheng Beng. Selain menjadi ritual ibadah, tradisi Cheng Beng ini seolah dapat mempertemukan kembali beberapa sanak famili yang sudah lama tidak bertemu. Inilah yang menjadikan Festival Cheng Beng selalu ramai karena ada kerinduan untuk bertemu saudara sendiri yang telah jauh untuk merantau.

Dibalik tradisi Cheng Beng, ternyata dalam kalender Imlek, Qing Ming dianggap sebagai musim yang baik untuk bercocok tanam. Memang, jika dilihat belakangan ini, sepanjang hari selalu turun hujan. Saat musim inilah dalam kalender Tionghoa dianjurkan untuk bercocok tanam berbagai jenis sayuran, buah-buahan dan bertani.

Dalam tradisi Cheng Beng, geliat perekonomian akan merangkak naik. Pasalnya tidak sedikit keluarga yang merogoh kocek untuk membawa beberapa sajian yang akan dipersembahkan kepada leluhurnya. Sesaji tersebut biasanya diletakkan didepan makam kuburan para leluhurnya. Tak jarang, saat yang sama. Beberapa kuburan yang sudah terlihat rusak, akan diperbaiki, di cat ulang kembali bahkan dibangun dan diperindah demi menghormati para leluhurnya.

festival-cheng-beng-2016-2

Beberapa keluarga ada yang membawa pulang kembali makanannya, namun untuk persembahan seperti uang-uangan kertas akan dibakar di sekitar makam. Festival Cheng Beng sangat penting bagi keturunan Tionghoa di Indonesia. Karena, menjaga nama baik para leluhur merupakan harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Secara sederhana, tidak ada yang mau namanya tercoreng kerena ulah keturunannya. Untuk itulah, tradisi Cheng Beng ini seakan mengingatkan terus bahwa menjaga nama baik para leluhur merupakan hal yang harus selalu dijunjung dalam kehidupan bermasyarakat.

Di negeri asalnya di Tiongkok, festival Qingming jatuh pada tanggal 4 April 2016. Sehingga libur nasional dalam rangka memperingati Festival Qingming 2016 akan dimulai sejak tanggal 2 – 4 April 2016. Di Tiongkok sendiri festival Qingming diisi dengan berbagai kegiatan seperti membersihkan kuburan leluhur, outing bersama keluarga, dan bermain layang-layang. Bahkan beberapa orang akan menggunakan dahan pohon Willow atau Gandarusa.

Pohon Willow ada yang menyebutnya dengan pohon Dedalu menangis ada juga yang menyebutnya pohon Gandarusa. Pohon Willow biasanya tumbuh di tepian sungai atau aliran air yang dangkal. Pohon ini bisa tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 30 meter. Pohon Willow memiliki daun yang ramping dengan cabang dan dahan yang panjang serta kurus. Tak ayal pohon Willow dikenal tahan terjangan angin badai.

Nama latin dari pohon Willow ini adalah Salix Babylonica. Pohon yang tumbuh subur di daratan Tiongkok ini juga tumbuh hingga ke Amerika Utara. Karena keunikan dedauannya yang membentuk seperti atap alami, pada zaman dahulu, pohon Willow ini kerap digunakan bangsa Israel sebagai tempat menggantungkan kecapi. Dalam tradisi Tiongkok pohon Willow ini sangat kuat terhadap berbagai cuaca, bahkan memiliki kandungan obat yang mujarab.

Kemanapun tujuan liburanmu, cari tiket pesawat dan reservasi hotel hanya di Reservasi.com. Download aplikasi Reservasi di Andorid dan iPhone untuk mendapatkan diskon khusus dan harga ekslusif.

dzulfikar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *